Kelurahan Jagalan

Kota Kediri

UKM

PASAR LOAK

Potensi penghasilan yang ada di Kelurahan jagalan kota kediri ini cukup banyak dan mampu menjadi penopang untuk warga jagalan itu sendiri, mulai dari pasar Loak ,pengerajin kurungan burung, peternak burung kenari,pengrajin pecut,pengrajin pigura. namun dari itu semua , wilayah kelurahan jagalan bisa dibilangn sangat potensial untuk dibuat kawasan perekonomian untuk semua kalangan…

1

 

PENGRAJIN SANGKAR BURUNG KELURAHAN JAGALAN

 

01=200px

PAK WAHIB PEMBUAT SANGKAR BURUNG DARI KELURAHAN  JAGALAN

Pak Wahib…, begitu nama salah satu warga dari Kelurahan Jagalan yang dalam kesehariannya mempunyai kesibukan membuat atau memproduksi sangkar burung. Bapak ini terlahir di Kota Kediri pada tanggal  4 Nopember 1964. Riwayat kerja Bapak Wahib sebelum menekuni pembuatan kerajinan sangkar burung, pada tahun 1984 pernah bekerja di Kantor Pelayanan Pajak di Bagian Koperasi selama kurang lebih 6 tahun. Setelah berakhir pengalaman kerjanya di kantornya itu,  kemudian ia membeli sebuah kios di Pasar Setonbobetek untuk usaha berjualan burung. Setelah digelutinya selama kurang lebih 6 tahun usahanya menjual burung di Pasar Setonobetek, ternyata usahanya ini mengalami kebangkrutan. Akhirnya, pak Wahib melihat-lihat temannya yang membikin kerajinan sangkar burung yang ada di sekitarnya. Muncullah minat pak Wahib untuk mengikuti usaha temannya ini. Dengan modal yang pas-pasan pak Wahib membeli peralatan sederhana seperti bor manual juga pasrah kayu manual untuk mencoba mempraktekkan membuat sangkar burung. “Alhamdulillah, saya bisa membuat kurungan dan bisa menerima uang hasil penjualan sangkar burung buatan saya” ulas pak Wahib di rumahnya saat ditemui Tim Peliput Informasi dari Kantor Kelurahan Jagalan.

Hari demi hari dilalui dan ditekuninya untuk memproduksi sangkar burung. Dan, seiring perjalanan waktu, ternyata usahanya memproduksi sangkar burung mengalami kemajuan. Otomatis penghasilannya pun bertambah. Oleh pak Wahib sisa uang pendapatannya ditabung untuk membeli peralatan yang tidak manual lagi seperti bor listrik dan pasrah kayu listrik juga peralatan tambahan yang lainnya. “Dari peralatan listrik ini hasil produksi sangkar burung menjadi cepat dan meningkat jumlahnya. Rata-rata per 2 minggunya bisa menghasilkan 5 sampai dengan 6 buah sangkar burung”, sambung pak Wahib dengan senyum ramahnya. Menurut pak Wahib, dengan peralatan serba listrik produknya bisa lebih rapi dan dikenal oleh banyak orang. Ukuran besar-kecilnya sangkar burungpun bisa mudah dikerjakan dengan cepat melalui peralatan listrik yang dimilikinya itu. Pelanggannya pun semakin hari juga semakin bertambah banyak.

kompressor 300px

Bantuan Compressor Dan Gergaji Listrik Dari Pemprov Jatim

“Alhamdulillah…., saya juga mendapat bantuan sebuah Compressor dan sebuah gergaji listrik dari Pemerintah Jawa Timur melalui usulan bantuan dari Kantor Kelurahan Jagalan. Pekerjaan saya menjadi lebih baik dan lebih cepat. Bahkan sekarang produk ini sudah dikenal oleh banyak orang,” ungkap pak Wahib dengan perasaan riangnya.

Mengenai pelanggan, pak Wahib mempunyai pelanggan yakni konsumen langsung yang biasanya memberikan uang muka terlebih dahulu untuk membantu proses pembuatan sangkar burung pesanannya. Ada juga pelanggan lainnya misalnya para peternak burung yang memesan sangkar untuk ternak burung. Biasanya para pelanggan ternak burung  memesan sangkar untuk jenis sangkar indukan dan jenis sangkar burung untuk anakan. Para pelanggan peternak burung itu ada yang berasal dari Kota Blitar, Pare, Wates, dan sekitarnya. Selain pelanggan dari para peternak burung; ada juga pelanggannya yang berasal dari pelanggan even-even untuk jenis perlombaan burung berkicau yang mendatangi rumah pak Wahib untuk memesan sangkar burung untuk keperluan perlombaannya. Selain itu, ada juga pelanggannya yang berasal dari luar kota yang ingin membeli sangkar hasil buatannya.

Produksi ukuran sangkar burung di rumah pak Wahib ada yang berukuran 30 x 30 X 60 cm. Biasanya ini untuk ukuran sangkar burung kenari yang memerlukan sangkar kecil. Selain ukuran sangkar burung yang kecil juga ada ukuran sangkar burung yang besar sesuai dengan permintaan pelanggannya. Bentuk sangkarnya ada yang kotak, dan bulat. Mengenai harga sangkar burung bervariasi bisa mencapai harga mulai dari harga 100 ribu rupiah hingga 150 ribu rupiah atau 300 ribu rupiah. Setiap dua minggu rata-rata pak Wahib bisa memproduksi sebanyak 5 hingga 6 sangkar. Dan pendapatan rata-rata yang diperoleh pak Wahib tiap bulannya mencapai 1,3 juta rupiah sesuai dengan jumlah pesanan yang diterimanya. Dari hasil pendapatannya ini bisa dipergunakan pak Wahib untuk mencukupi kebutuhan hidup anggota keluarganya ( 1 istri dan 4 orang anak).

pesanan 300px

Pesanan Sangkar Burung Siap Dikirim Ke Pemesan

Selain memproduksi sangkar burung, pak Wahib juga menerima order lain berupa pesanan pigura untuk pigura lukisan atau pigura untuk foto yang harganya berkisar 100 ribu hingga 150 ribu rupiah. Mengenai hambatan kerja seperti sakit, pak Wahib bisa mengatasinya. Pak Wahib tetap semangat mengerjakan pesanan agar supaya pelanggan tidak marah atau kecewa dengan pelayanan yang diberikannya. Pak Wahib bercita-cita agar hasil buatan sangkar burung bikinannya ini bisa semakin dikenal, disukai, dan lebih bagus lagi bentuknya juga semakin maksimal kualitasnya.

Mengenai urusan limbah yakni limbah berupa serabut-serabut kayu, maka dari pihak luar ada yang mengambilnya dan mau membelinya dengan harga 10.000 per karungnya. Hal ini dilakukan oleh pak Wahib supaya lingkungan di wilayah kelurahan Jagalan tetap terjaga kebersihannya. “Biasanya limbah berupa serabut-serabut kayu ini dibakar dan diproses untuk campuran bahan pupuk,” jelas Pak Wahib kepada Tim Peliput Informasi Kantor Kelurahan Jagalan.

Contac Person :

Bpk. Wahid

Alamat : Jl. Patimura Gang II No. 03 RT 03 RW 01

 

 

TELUR ASIN GURIH, MASIR, DAN MANIS KARYA BAPAK YUSAK – PRODUK UNGGULAN KELURAHAN JAGALAN

01 300pxTelur asin merupakan salah satu produk unggulan dari Kelurahan Jagalan. Salah satu pelaku usaha telur asin di kawasan Kelurahan Jagalan yakni Bapak Yusak. Produk telur asin bikinan Pak Yusak ini boleh terbilang masih muda, namun, produk ini mampu bersaing dengan produk telur asin yang sudah lama beredar di pasaran. Ini terbukti dengan cepat habisnya produk telur asin bikinan Pak Yusak karena terus-menerus di beli atau dipesan oleh pelanggan baik pelanggan lokal ataupun sekitarnya. “ Saya sering kewalahan menyetok atau memenuhi pesanan pelanggan saya yang kian bertambah. Hal ini disebabkan karena stok bahan baku telur bebek selalu tersendat-sendat. Apalagi memasuki musim penghujan jumlah produksi teler bebek dari para peternek bebek juga menurun. Meskipun pelanggan saya bertambah banyak jumlahnya seperti warung-warung, malah membuat saya juga kewalahan atau bingung untuk memenuhi pesanan karena terbatasnya jumlah bahan baku telur bebeknya,” keluh Pak Yusak saat ditemui Tim Peliput Informasi dari Kantor Kelurhan Jagalan.

Riwayat produksi telur asin di rumah Pak Yusak yang beralamat di Desa Jagalan Gang II RT 01 RW 02 Kelurahan Jagalan  ini dimulai dari pengalaman istrinya (Ibu Sulastri) yang pernah bekerja ikut pengusaha telur asin selama kurang lebih 4 tahun yang akhirnya istrinya keluar dari tempat kerjanya. Tepatnya di bulan Desember tahun 2012 Pak Yusak bersama istrinya memulai mempelajari cara-cara memproduksi telur asin sendiri di rumahnya. Hampir satu bulan lamanya mereka mempelajari tekniknya. Akhirnya, di bulan Januari tahun 2013 Pak Yusak dengan berbekal semangat dan kemandirian juga modal yang pas-pasan, Pak Yusak bersama istrinya berani membuat dan memasarkan produk telur asinnya ke warga terdekat dan masyarakat sekitarnya. Pak Yusak pun terpikir untuk memberi nama produknya dengan nama “YSK” yang diambil dari singkatan namanya. “Dengan mengucap puji syukur, produk telur asin saya bisa diterima dan dinikmati rasanya oleh pembeli. Dari hari ke hari pembeli atau pelanggan telur asin bikinan saya bertambah banyak,” terang Pak Yusak dengan nada riang.

Pembeli atau pelanggannya ada yang berasal dari dalam kota seperti dari daerah Sukorame, Gurah, Kaliombo, Balowerti, Dandangan, Setonopande, Jagalan, dan sekitarnya. Ada juga yang berasal dari luar kota. Instansi Pemerintah atau swasta pun juga mengenal produk telur asin “YSK” dan selanjutnya juga mendatangi rumah Pak Yusak untuk memesan telur asin.

Dengan bantuan dan dukungan dari Kantor Kelurahan Jagalan melalui Lurah Jagalan Bapak Nanang Jumari S.Sos, produk telur asin bikinan Pak Yusak juga mendapat kesempatan di pasarkan di Show Room Sekartaji Pemerintah Kota Kediri yang beralamat di Jl. Yos Sudarso utara Klenteng Kota kediri. “Telur asin YSK bikinan Pak Yusak warga Kelurahan Jagalan adalah salah satu jenis produk unggulan dari Kelurahan Jagalan yang harus dikembangkan di kawasan Jagalan selain produk-produk unggulan yang lainnya. Ini bisa menambah khasanah produk-produk unggulan untuk Kelurahan Jagalan. Dan pihak kelurahan harus mendukungnya. Di tempat-tempat pemasaran seperti warung-warung nasi, kantin, dan tempat sejenisnya sudah dijumpai produk telur asin ini ,” jelas Lurah Jagalan dengan perasaan bangganya.

Menurut Pak Yusak jumlah telur asin yang dititipkan di warung-warung nasi atau tempat sejenisnya jumlahnya berkisar antara 20 sampai 30 butri telur asin di setiap tempatnya. “Tingkat kesulitannya masih di permasalahan bahan bakunya untuk mengembangkan usahanya ini. Semoga di kemudian hari persediaan bahan baku telur bebek bisa lebih lancar lagi dari peternak-peternak bebek yang ada di Kota Kediri dan sekitarnya,” harap Pak Yusak.

Selain dikenal sebagai pelaku usaha telur asin, Pak Yusak juga supel dalam bermasyarakat dengan warga masyarakat manapun. Dan, Pak Yusak juga peduli dengan lingkungan Kelurahan Jagalan khususnya. Hal ini terbukti dengan ditunjuknya pak Yusak sebagai Ketua RW 02 oleh warga Kelurahan Jagalan.

Dengan rasa telur asin yang khas yakni gurih, manis, masir dan asin menyebabkan banyak orang yang berdatangan ke rumah Pak Yusak untuk memesan telur asin bikinannya. Sebelum  pukul 6 pagi Pak Yusak setiap harinya sudah terlihat sibuk memproduksi telur asin ini. Bahkan jika malam hari ada warung-warung atau pelanggan yang memesan telur asin, maka Pak Yusak pun sudah jauh lebih dini mempersiapkan proses pembuatannya. Pak Yusak juga menyediakan cadangan persediaan telur asin di rumahnya jika sewaktu-waktu ada pembeli yang datang langsung ke rumahnya. Dalam seharinya Pak Yusak bisa menyiapkan produksi telur asin dalam jumlah 150 butir telur asin. Menurut Pak Yusak proses merendam telur asin asin di rumahnya ada yang memakan waktu antara seminggu atau lebih dari seminggu untuk menciptakan rasa telur asin yang enak.

Hingga saat ini, produk Telur Asin bikinan Pak Yusak sudah dikenal oleh masyarakat sebagai telur asin yang awet atau bertahan lama rasa khasnya (gurih, asin, masir, dan manis) dan tidak cepat membusuk.

Contac Person:

Bpk Yusak

Alamat Desa Jagalan Gang II RT 01 RW 02 Kelurahan Jagalan Hp: 082332036032

 

 

TERNAK BURUNG KENARI

200 px

JUNI KRISTIANTORO PEMUDA SUKSES TERNAK BURUNG KENARI DARI KELURAHAN JAGALAN

A 400px
Anakan Burung Kenari Siap Dibesarkan

 

Barawal dari hobby, Juni Kristiantoro pemuda yang terlahir di Kota Kediri pada tanggal 22 Juni 1990 kini merasakan kesuksesannya berkat ketekunan, keuletan, dan kejujurannya di dalam usahanya berternak burung kenari.  Pemuda yang beralamat di Jalan Jagalan No. 42 RT 03 RW 01 Kelurahan Jagalan, kini ia bisa hidup mandiri bahkan bisa membantu kehidupan kedua orang tuanya dan ke dua adiknya yang kini adiknya sudah bisa mendapatkan pekerjaan dan adik yang satunya bisa melanjutkan sekolahnya. Bahkan Juni Kristiantoro bisa mencukupi kebutuhan makannya sehari-hari dan bisa membeli fasilitas-fasilitas yang dibutuhkannya seperti motor, sepeda, televisi, juga kebutuhan pakan burung kenari dan sangkarnya. Selain itu, menurut Juni Kristiantoro yang dulu rumah orang tuanya kurang bagus sekarang bisa diperbaikinya dengan uangnya sendiri.

Berawal dari tahun 2005 hingga sekarang, yang dulunya cuma mempunyai 6 buah sangkar ternak burung kenari, berkat ketekunan, keuletan, dan kejujurannya kini Juni Kristiantoro sudah memiliki lebih dari 60 buah sangkar ternak burung kenari. Pemuda ini biasanya mendapatkan pasokan sangkar ternak dari wilayah sekitarnya yakni dari wilayah Jagalan, Pakunden, dan Tinalan Kota Kediri. Berawal dari hobynya juga modal yang pas-pasan, semangat pantang menyerah pemuda ini bercita-cita atau bertekat untuk mengembangkan hoby dan usahanya ini. Alhamdulillaah, sampai saat ini akhirnya pemuda ini berhasil dalam mewujudkan cita-cita beternak burung kenari.

B 300 PX

Burung Kenari Siap Dikirim Ke Pasaran

Pemasaran burung kenari hasil ternak dari pemuda ini bisa mencapai luar kota (Surabaya, Malang, Solo, Yogyakarta, Purbalinggo, Bondowoso dan sekitarnya) atau luar pulau (Kalimantan, Pontianak, Samarinda, Jayapura, Medan, Madura, dan Sumatera) . Untuk pelanggan lokal Kediri, pemuda ini mempunyai pelanggan yang berasal dari Bangsal, Kuwak Utara dan sekitarnya. Juni Kristiantoro juga mempunyai pengalaman dan prestasi lain seperti mengikuti lomba burung berkicau atau Ocehan ( burung Anis Merah, Cucak Rowo, Cucak Hijau )  di Kota Malang. Sebelum beternak burung kenari, Juni Kristiantoro menekuni kegiatan di bidang Sablon selama 6 tahun sejak sekolah di bangku SMP hingga lulus STM. Juni Kristiantoro juga mempunyai prestasi yang diperoleh dari Dinas Perikanan dan mewakili Kota Kediri dan mendapat prestasi sebagai juara I tingkat propinsi dalam bidang lomba ikan cupang.

Setelah dari pengalaman-pengalamannya inilah akhirnya pemuda ini beralih ke usaha lain yakni usaha beternak burung kenari hingga saat ini. Untuk pendapatan perkapita tiap bulannya pemuda ini bisa mencapai 1,5 juta hingga 2 juta rupiah. Dengan telatennya pemuda ini tiap hari memberi makan burung kenarinya setiap pukul 06.00 pagi hingga jan 09.00 pagi. Lalu dilanjutkannya untuk memberi makan burung kenarinya pada pukul 15.00 hingga jam 16.00 sore. Proses penjemuran burung kenari di tempat pemuda ini yakni antara jam 07.00 hingga jam 09.00

Juni Kristiantoro berpesan kepada pemuda-pemuda yang lain khususnya ada di wilayah Kelurahan Jagalan bahwa untuk pemuda di jaman sekarang ini hendaklah mengembangkan hobby dan manfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. “Khusus untuk penghobby atau pecinta burung kenari, jangan memandang remeh burung kenari itu sendiri. Selain mempunyai daya tarik di warna bulunya yang halus dan indah serta berkicaunya yang merdu, burung kenari itu mengandung unsur rejeki dan banyak peluang usahanya. Peternak burung kenari harus bisa mempelajari daya naluri burung kenari itu sendiri. Berkat burung kenari bisa mengantar orang untuk menjadi orang sukses. Semua itu tergantung kita dalam menekuni usahanya. Prinsipnya berawal dari pelan-pelan, telaten, dan tekun serta jujur untuk menuju keberhasilan. Lalu mensyukuri segala apa yang diberikan oleh Alloh SWT. Sedikit-sedikinyat usaha dan rejeki yang didapat harus ditekuni,” pesannya.

Contac Person :

Yuni Kristiantoro

Alamat Jalan Jagalan No. 42 RT 03 RW 01 Kelurahan Jagalan No.HP 087759381991

 

 

 

 

PEMBUAT PECUT JARANAN KELURAHAN JAGALAN

 

01 200PX02 200 px

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PAK WAHYU “PECUT” PENGRAJIN PECUT JAGALAN

Beralamatkan di Desa Jagalan Jl. Pattimura Gang II No. 28 RT 01 RW 01 Kelurahan Jagalan Kota Kediri, Bapak Wahyu Ristanto alias Pak Wahyu Pecut kelahiran Kota Kediri 28 Agustus 1977 terlihat tersenyum-simpul saat kedatangan Tim Peliput Informasi dari Kantor Kelurahan Jagalan yang waktu itu sekitar jam 08.30 WIB datang menemuinya. Tim Peliput Informasi sengaja mendatanginya pagi-pagi mengingat Pak “Wahyu Pecut” biasa sibuk dengan usahanya yakni memproduksi dan memasarkan kerajinan pecut jaranannya. Tidak hanya membuat pecut saja, Pak “Wahyu Pecut” juga membuat serta memasarkan produk-produk lainnya seperti jaranan ukuran kecil, sedang, dan besar; celeng jaranan; pentul; dan caplokan.

Pak “Wahyu Pecut” bersama pekerjanya menggeluti usahanya sejak lulus SMA, tepatnya sejak tahun 1992 yang lalu. Produknya saat itu membuat jaranan kuda lumping, Barongan, Pentulan, dan Pecut jaranan. Pekerja pembuat kuda lumping sebanyak 1 orang; pekerja pembuat pecut 2 orang; pekerja pembuat caplokan 1 orang; dan pekerja pembuat celeng 1 orang. Pekerja yang ikut Pak Wahyu direkrutnya dari para pemuda yang menganggur dan putus sekolah. Ada yang lulusan SMP dan ada yang lulusan SMA. Mereka berasal dari Kota Kediri sebanyak 2 orang dan yang lain dari luar Kota Kediri.  Untuk bahan baku didatangkan dari Kota Kediri dan dari luar Kota Kediri. Seperti bahan baku bambu dari Tulungagung, kayu untuk pentulan dari Ponorogo. Datangnya bahan baku setiap satu bulan sekali. “Kalau untuk caplokan bahan bakunya dari lokal saja yang dipres dengan cetakan caplokan. Bahan baku pecut juga berasal dari lokal,” jelasnya. Waktu pengerjaan biasanya dimulai jam 5 pagi sampai dengan jam 4 sore. Para pekerja akan menyetorkan hasil kerjaannya setiap 2 minggu sekali. Upah yang diterima oleh pekerja berkisar 300 ribu sampai dengan 400 ribu per-minggunya.

Untuk memenuhi pesanan partai besar Pak Wahyu Pecut mengumpulkannya dari para pengrajinnya yang ada di Kediri (Prambon ada 2 orang pengrajin, Wates ada 2 orang pengrajin, Gampeng ada 2 orang pengrajin, Jagalan ada 2 orang pengrajin)  dan luar Kota Kediri (Tulungagung ada 2 orang pengrajin). Skala pesanan bisa mencapai 6.000 kodi untuk jaranan;  500 kodi untuk pesanan caplokan; 200 kodi pentulan; 6000 kodi pecut. Biasanya jumlah pesanan terbanyak bila memasuki Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Natal. Pada saat itu pesanan bisa mencapai 10.000 kodi kuda lumping; 5.000 kodi caplokan; 10.000 kodi pecut jaranan. Karena terlalu banyaknya jumlah pesanan saat hari raya ini, Pak “Wahyu Pecut” kuwalahan mencukupi pesanan itu.

Untuk pemarasan produk kerajinan dari Pak “Wahyu Pecut” bisa mencapai luar kota seperti Sumatera, Kalimantan. Sulawesi, sampai dengan ke Irian Jaya. Pesanan dari luar kota ini biasanya dimanfaatkan untuk souvenir, dijual lagi, bahkan ada yang dijual lagi oleh pemesan ke daerah lainnya. Ada juga yang dipasarkan ke luar negeri seperti dipasarkan ke Malaysia.  Sementara itu, untuk pemasaran dalam kota pemasarannya bisa mencapai kota Surabaya, Madura, Tulungagung, Malang, dan sekitarnya.

Dari hasil usahanya ini Pak “Wahyu Pecut” bisa mendapatkan penghasilan antara 2 juta hingga 3 juta per-bulannya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya serta mampu mensejahterakan istri dan ke tiga anaknya. Bahkan kalau pesanan dari luar kota itu banyak jumlahnya, Pak “Wahyu Pecut” bisa memperoleh penghasilan sebesar kurang 10 juta hingga 15 juta rupiah.

Pak “Wahyu Pecut” berpesan kepada generasi muda jangan sampai melupakan budaya atau kesenian jawa yang kita miliki. Kesenian jawa harus dikembangkan terus biar bisa dikenal hingga luar daerah dan manca negara. “Caranya di tiap sekolahan , TK, SD, SMP, SMA perlu diberikan kegiatan kesenian. Misalnya kesenian Kuda Lumping,” harap Pak Wahyu Pecut mengakhiri ulasannya.

Pengalaman menarik yang dialami oleh Pak “Wahyu Pecut” yakni di tempat kegiatan usahanya pernah di datangi orang-orang terkenal seperti artis Krisna Mukti, Ayu Azhari, dan Roni Djiwantoro. Mereka pernah memesan kerajinan jaranan dari tempat usahanya ini. Para pejabat dari luar kota pun juga pernah mendatangi tempat usahanya. Bahkan turis manca negara seperti dari Australia, Amerika juga pernah memesan hasil kerajinannya ini sebagai souvenir atau hiasan dinding di rumahnya.

Event-event seperti hari Ulang Tahun Kota Kediri, kegiatan pameranpun juga sering diikuti oleh Pak “Wahyu Pecut” dalam rangka ikut mengenalkan dan melestarikan kesenian jawa terutama kesenian jaranan kuda lumping kepada generasi muda sekarang.

Contac person :

Wahyu Ristanto

Alamat : Ds. Jagalan Jl. Pattimura Gg II No. 28 Kelurahan Jagalan. Hp. 081216896265

 

 

 

 

PEMBUATAN PIGORA DI KELURAHAN JAGALAN

 

“PIGORA CANTIK HASIL KARYA BAPAK MISLAN”

 

01 300PX

Bapak Mislan Bersama Perangkat Kel. Jagalan Bpk. Ichwanul

Kawasan Kelurahan Jagalan boleh dibilang sebagai kawasan yang produktif  untuk berkarya. Mengingat kawasan Kelurahan Jagalan termasuk salah satu kawasan yang strategis untuk mengembangkan segala jenis usaha. Mulai dari usaha kuliner, segala jenis usaha pertokoan (bangunan, konveksi, dan lain-lain). Bahkan usaha jasa pun mempunyai peluang bisa berkembang di kawasan kelurahan Jagalan. Semua jenis usaha mempunyai peluang untuk bisa eksis dan berkembang. Semua itu tergantung pada para pelaku usahanya.

Sebagai salah satu contohnya yakni usaha yang ditekuni oleh Bapak Mislan. Yakni, usaha berdagang pigora. Usaha ini merupakan salah satu usaha yang turun-temurun dari orang tuanya terdahulu mulai sejak tahun 70’an.

Bapak Mislan mulai bisa mandiri dalam usahanya berdagang pigora sejak tahun 1990’an. Hal ini dikarenakan kondisi orang tuanya yang sakit dan masuk usia tua hingga orang tua dari Bapak Mislan meninggal dunia di tahun 2007. Orang tua Bapak Mislan waktu itu berdagang pigora mulai tahun 1970’an. Tempat berjualannya waktu itu ada di kawasan emperan Jalan Dhoho. Bapak Mislan waktu kecilnya ikut menemani orang tuanya berjualan pigora dan merasakan tiduran di emperan Jalan Dhoho sambil menunggu dagangan pigora orang tuanya. Sejak itulah naluri bapak Mislan menggeluti usaha pigora semakin kuat juga mengenal sistem pemasarannya. Ayah Bapak Mislan dulu selain berjualan pigora juga berjualan gambar, dan foto. Dalam membuat pigora, ayah Bapak Mislan masih menggunakan pelaratan serba manual dan sederhana.

Di tahun 1990’an bertempat di jalan Pattimura nomor 91 A Timur rel kereta api RT 03 RW 01 Kelurahan Jagalan, bapak Mislan mulai mengembangkan usahanya. Awalnya pengerjaannnya dengan peralatan manual dan sederhana. Dengan modal 20 juta, akhirnya bapak Mislan mampu membeli peralatan otomatis serba listrik seperti gergaji listrik, bor listri, pengepress bingkai, juga paku tembak untuk merangkai kayu pigora. Anak-anak dari bapak Mislan dalam usianya yang bertambah dewasa juga semuanya mengikuti jejak ayahnya yakni memproduksi dan memasarkan pigoro. Sedangkan pekerja yang ikut bapak Mislan ada dua orang.

Jenis ukuran yang diproduksi juga bervariasi ada pigora ukuran kecil ( 20 x 25 cm ) dan ukuran pigora besar ( 85 x 135 cm ).

02 300px

Klowongan Pigora (pigora setengah jadi)
Yang Sedang Diproses Oleh Pekerja

Harga jualnya mulai dari 10 ribu rupiah hingga 500 ribu rupiah. Nilai harga jual ditentukan oleh ukuran pigora dan bahan yang dipakainya, misalnya kayu atau fiber. Bahan baku kayu kembang kenongo didatangkan dari Tulungagung, sedangkan bahan baku fiber didatangkan dari Surabaya. Bapak Mislan juga mengerjakan pigora setengah jadi yang sudah berbentuk klowongan atau bingkai dari pengrajin pigora yang merupakan mitra kerjanya misalnya dari daerah Mojokerto. Dari Hasil usahanya ini bapak Mislan bisa memperoleh uang penghasilan kurang lebih berkisar 2 juta sampai dengan 3 juta rupiah tiap bulannya.

Selain menyediakan pigora segala ukuran, lukisan, kaligrafi, poster, kerajinan garuda, bapak Mislan juga melayani pembuatan mahar serta pigora modern dengan pernak-pernik dan jenis bahan yang disukai oleh pembelinya.

Contac Person:

Bpk. Mislan

Alamat Jl. Pattimura No. 91 A RT 03 RW 01 Kel. Jagalan Hp. 085645009581

 

 

 

SENI KERAJIAN JENGKLOT YANG UNIK

 

PAK EKO PENGRAJIN SENI KERAJINAN JENGKLOT DARI KELURAHAN  JAGALAN

 

01 b jengkloty 300px

Pak Eko Mempersiapkan Bahan Membuat
Seni Kerajinan Jengklot Di Rumahnya

Berkat Karya Seni Dan Kerajinan Dari Warganya, Nama Kelurahan Jagalan Dikenal Oleh Banyak Orang.

Mungkin semua orang belum tahu akan hal itu. Tapi, fenomena itu bisa dibuktikan dari berbagai jenis karya seni kerajinan bikinan warga masyarakat Kelurahan Jagalan yang sudah berhasil terpasarkan di luar kota atau luar pulau bahkan sampai ke manca negara.

Sebut saja salah satu contohnya yakni karya seni kerajinan Jengklot bikinan Pak Agus Eko Purbowo yang dirintisnya sejak tahun 1991. Pak Agus Eko Prabowo lebih dikenal namanya oleh warga masyarakat sekitarnya dengan sebutan nama Pak Eko. Pria ini adalah salah satu warga asli Kelurahan Jagalan yang terlahir pada tanggal 15 Maret 1962 beralamat di Jalan Jagalan Gang II No. 25 RT 02 RW 02 Kelurahan Jagalan Kota Kediri.

Sudah puluhan tahun Pak Eko berkarya menekuni usahanya dalam bidang pembuatan seni kerajinan Jengklot. Sebelum menekuni usahanya ini Pak Eko juga mempunyai pengalaman yakni jadi pengurus Karang Taruna di wilayah Kelurahan Jagalan. Sejak jadi pengurus Karang Taruna itu Pak Eko sudah menunjukkan karya seni dan kerajinannya yang luar biasa kepada masyarakatnya misalnya membuat pot bunga, membuat taman, juga membuat jenis karya seni kerajinan yang lainnya.

Alhasil, dari semangat kemandirian dan pengalaman di bidang seni kerajinan yang terus berkembang inilah Pak Eko yang juga mempunyai bakat alam di bidang spiritual yang turun-temurun dari leluhurnya akhirnya Pak Eko mencoba beralih ke jenis karya seni kerajinan yang bisa mendatangkan penghasilan. Sungguh luar biasa, berkat semangat kemandirian, keuletan, kegigihan, kesabaran, dan kejujurannya Pak Eko bisa berhasil mengenalkan karya seni kerajinannya (terutama karya seni kerajinan Jengklot) sampai ke luar kota, luar pulau, bahkan sampai dikenal di manca negara seperti Singapura, dan Malaysia.

Selain membuat seni kerajinan Jengklot Pak Eko juga membuat seni kerajianan lain seperti tongkat dari tulang hewan, keris bertuah, batu bertuah, dan lain-lain sesuai dengan permintaan atau pesanan dari konsumennya.

Konsumen Pak Eko kebanyakan adalah dari para kolektor-kolektor pecinta seni kerajinan misalnya dari Kota Tuban, Warungjayeng Nganjuk, Tulungagung, dan kota lainnya. Ada juga dari para pedagang-pedagang seni kerajinan yang berasal dari luar pulau seperti Kalimantan, Sulawesi dan dari pulau-pulau lainnya yang memesan dalam jumlah partai pesanan yang lumayan besar. Melalui para kolektor dan para pedagang inilah akhirnya bisa membuat karya seni kerajinan bikinan Pak Eko ini dikenal di luar kota, luar pulau, bahkan sampai dikenal di manca negara mengingat hasil karya senikerajinan bikinan Pak Eko dikenal sebagai karya seni kerajinan yang sangat unik dan fantastis indahnya serta bisa awet bentuknya. Selain itu, karya seni kerajinan bikinan Pak Eko juga sering ditampilkan di berbagai media elektronik maupun media cetak.

Dalam pengerjaan seni kerajinan ini dikerjakan di rumah Pak Eko sendiri. Dalam proses pengerjaannya dibantu oleh saudaranya yakni adik Pak Eko (bernama Mas Wawan). Dengan alasan bahwa tidak semua orang bisa membuat atau memproduksi jenis karya seni kerajinan yang unik, fantastis, dan spektakuler seperti ini. Menurut penjelasan Pak Eko bahwa proses akhir pengerjaannya berdasarkan hasil negosiasi dengan pemesannya kapan waktu selesainya. Mengenai model atau bentuk karya seni kerajinannya dikerjakan sesuai dengan permintaan model atau bentuk dari  pemesannya itu sendiri.

Suatu Karya Seni Kerajinan, menurut pendapat Pak Eko bahwa karya seni kerajinan itu yang bisa memberikan penilaian adalah orang lain. “ Sebagai bangsa yang besar, bangsa yang luhur dan berbudaya jangan sampai kita meninggalkan karya seni dari para leluhur kita,” pesan Pak Eko saat menuturkan ceritanya kepada Tim Peliput Informasi Dari Kantor Kelurahan Jagalan.

Contac Person :

Pak Eko

Alamat Desa Jagalan Jl. Jagalan Gang II No. 25 RT 02 RW 02 Kelurahan Jagalan Kota Kediri; HP : 081335552112

PRODUK SENI KERAJINAN DARI BARANG-BARANG BEKAS SEKITAR RUMAH

01 300PX

Pak Bambang Tri Agus Wicaksono Dengan
Salah Satu Hasil Karya Seni Kerajinannya

Banyak orang yang menyepelekan keberadaan barang-barang bekas yang ada di sekitar rumah kita. Pada umumnya barang-barang bekas tersebut menurut kebanyakan orang sudah tidak ada artinya lagi. Namun demikian, lain ceritanya jika barang-barang bekas tersebut jika berada di tangan Pak Bambang Tri Agus Wicaksono warga Kelurahan Jagalan yang mempunyai bakat alami di bidang seni kerajinan. Seperti misalnya limbah kertas (kardus, karton, dan sejenisnya); pecahan tekel/keramik; pecahan kaca; botol-botol bekas; tempurung kelapa; potongan kayu atau triplek; benang; tali; dan lain sebagainya.

Dengan menggunakan ramuan bahan khusus yang sederhana hasil temuan sendiri dari Pak Bambang Tri Agus Wicaksono, maka barang-barang bekas yang sudah tidak ada nilainya itu  akan berubah menjadi barang-barang seni kerajinan yang unik, antik, dan fantastis serta mempunyai nilai jual yang tinggi jika barang-barang bekas itu diolah atau dikerjakan oleh Pak Bambang Tri Agus Wicaksono warga Kelurahan Jagalan ini.

Sejak tahun 2003 Pak Bambang Tri Agus Wicaksono sudah cukup banyak menghasilkan jenis karya seni kerajinan dari bahan-bahan bekas, misalnya perahu-perahuan, sangkar burung hias, kap lampu hias, ukiran kayu unik dari peralatan dapur, lukisan timbul, pigora, dan masih banyak lagi jenisnya seperti hiasan-hiasan dinding unik yang bisa dijumpai di rumah Pak Bambang Tri Agus Wicaksono yakni di Desa Jagalan Jl. Pattimura Gang I No. 09 Kelurahan Jagalan Kota Kediri.

Awal mulanya karya ini tercipta yakni munculnya keinginan Pak Bambang Tri Agus Wicaksono terinspirasi untuk membuat suatu pigora album foto anaknya (bersekolah di Taman Kanak-Kanak) yang mana kalau foto-foto anaknya itu dipasang di album foto biasa maka album foto biasa itu tidak akan mencukupi tempatnya.

02 300px

Pigora Album Foto Inspirasi Pertama Karya
Pak Bambang

03 300px

Karya Seni Dari Pecahan Kendi

Selanjutnya, dibuatlah  suatu Pigora Album Foto oleh Pak Bambang Tri Agus Wicaksono dari bahan potongan triplek bekas yang ada di rumahnya. Lalu diolesinya bagian tepi dan bagian dalam pigora tersebut dengan ramuan olesan khusus yakni semacam adonan berbahan khusus. Dan akhirnya, terciptalah seni kerajian pigora album foto yang indah, unik, serta fantastis hasil karya Pak Bambang Tri Agus Wicaksono. Di kemudian hari terciptalah pula karya seni kerajinan jenis-jenis lainnya yang juga mempunyai bentuk yang unik, indah, dan fantastis bikinannya.

Untuk pemasarannya Pak Bambang Tri Agus Wicaksono memasarkan hasil karya seni kerajinannya ini yakni lewat teman-teman dekatnya pecinta sangkar burung. Terbesit dalam benaknya pula untuk memasarkan ke kantor-kantor, sekolahan-sekolahan, juga di perumahan-perumahan.

Pengalaman menarik yang dialami oleh Pak Bambang Tri Agus Wicaksono yakni pernah di tawari oleh orang lain untuk mengembangkan hasil karya temuannya ini untuk dibawa dan diproduksi di Kota Jakarta. Namun Pak Bambang Tri Agus Wicaksono menolaknya. Takutnya kalau dari hasil temuan ramuan adonan untuk menghiasi barang-barang bekas ini nantinya disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. “Karya seni kerajinan saya ini nantinya akan dipasarkan oleh orang yang mengajak saya ke Jakarta itu untuk dipasarkan ke luar pulau Jawa bahkan juga akan dipasarkan ke luar negeri. Misalnya ke Malaysia,” jelas Pak Bambang Tri Agus Wicaksono menceritakan pengalamannya kepada Tim Peliput Informasi dari Kantor Kelurahan Jagalan.

Berdasarkan pengamatan langsung Tim Peliput Informasi dari Kantor Kelurahan Jagalan ternyata hasil karya seni kerajinan Pak Bambang Tri Agus Wicaksono ini memang tergolong sebagai karya yang unik, indah dan fantastis. Dengan menggunakan bahan-bahan baku berupa barang-barang bekas yang sangat mudah ditemukan di sekitar rumah kita, namun dari barang-barang bekas ini ditangan Pak Bambang Tri Agus Wicaksono bisa menghasilkan karya seni kerajinan yang mempunyai nilai jual yang tinggi serta awet keberadaannya dan tidak mudah rusak.

Di akhir ulasannya, Pak Bambang Tri Agus Wicaksono ini mempunyai keingingan untuk membentuk sanggar seni kerajinan di Kelurahan Jagalan untuk menampung anak-anak dari Kelurahan Jagalan khususnya yang mempunyai bakat di bidang seni kerajinan. Sanggar seni kerajinan ini nantinya bisa berfungsi sebagai wadah untuk mencetak anak-anak Kelurahan Jagalan yang kreatif dan mandiri dengan berbekal ketrampilan yang dimiliki. Pak Bambang Tri Agus Wicaksono pingin sekali membimbing anak-anak Kelurahan Jagalan untuk berkarya demi kemajuan anak-anak tersebut dan demi kemajuan Kelurahan Jagalan khususnya di bidang seni kerajinan.

Contac Person :

Bapak Bambang Tri Agus Wicaksono

Alamat Desa Jagalan Jl. Pattimura Gang I No. 09 RT 01 RW 02 Kelurahan Jagalan  Hp : 081335244493