Kelurahan Jagalan

Kota Kediri

Sejarah

Nama Kelurahan Jagalan tidak lepas dari sepak terjang Maling Gentiri. Pencuri sakti yang menggarong orang kaya di masa jaman penjajahan Belanda yang bercokol di wilayah Kediri pada waktu itu. Hasil curian yang diperoleh Maling Gentiri lalu dibagikan pada rakyat miskin.

Menurut keterangan juru kunci makam Gunung Sari, Muhammad Taufik David, ST yang juga modin di Kelurahan Jagalan meneruskan profesi modin Mbah Ahmad ayahnya sekitar tahun 1930-an, kisah Maling Gentiri ini ada sekitar tahun 1500-an. Menurutnya, nama asli Maling Gentiri adalah Syekh Saifudin. Syekh Saifudin banyak disukai warga miskin namun dibenci orang-orang kaya. Hal ini karena pada masa itu Syekh Saifudin mencuri harta orang kaya kemudian hasilnya dibagikan kepada warga miskin. Pencurian terutama dilakukan kepada pejabat pemerintah belanda yang menjajah kala itu. Jika merampok penjajah Belanda, Maling Gentiri tidak segan-segan menjagalnya. Penjajah pun kelabakan dengan sepak terjang Maling Gentiri. Apalagi, ketika sempat tertangkap dan dihukum mati ternyata si pencuri sakti ini hidup kembali. Bahkan, meski dibunuh berkali-kali berkat kesaktian yang dimilikinya, Maling Gentiri hidup kembali.

Konon, menurut cerita yang berkembang bahwa Maling Gentiri mendapat perlindungan dari Mbah Gunung Sari. Mbah Gunung Sari pada waktu itu dikenal sebagai tokoh yang babad alas di daerah ini pada tahun 800-an. Kesaktian Maling Gentiri benar-benar membuat orang pada segan kepadanya. Namun, pada akhirnya salah satu teman Maling Gentiri melakukan pengkhianatan. Lalu membocorkan rahasia kelemahan atau pengapesan si pencuri sakti ini. Rahasia itu disampaikan kepada penjajah Belanda yang memang sangat benci dan menaruh dendam lama.

Di hari naasnya, Maling Gentiri pun tertangkap. Penjajah Belanda lantas mengekskusinya. Mirisnya, tak hanya dibunuh. Namun kepala dan badan Maling Gentiri juga dikubur secara terpisah dari anggota badannya yang lain.

Lokasi penjagalan atau pemotongan anggota tubuh Maling Gentiri di wilayah Jagalan (nama wilayah Kelurahan Jagalan yang dikenal sampai sekarang ini).

Kisah-kisah serangkaian penjagalan yang terjadi pada masa itulah yang melatarbelakangi munculnya nama Kelurahan Jagalan.

Konon, kepala Maling Gentiri dikuburkan di tanah lapang yang kini menjadi lapangan Jayabaya. Sementara badannya disebut-sebut dikuburkan di Kelurahan Setonogedong. Lalu bagian anggota badan  lainnya ada yang menyebut  dikuburkan di kawasan bukit Maskumambang.

Selain kisah Maling Gentiri, ada versi lain yang menyebut Kelurahan Jagalan dahulu kalanya di daerah ini merupakan tempat penjagalan hewan.